h1

Kadal Raksasa dari Pegunungan Patagonia

Oktober 18, 2007

Kadal Raksasa dari Pegunungan Patagonia
Kamis, 18/10/2007

Pada awal pekan ini,ahli Paleontologi Argentina dan Brasil mengumumkan telah menemukan fosil lengkap dinosaurus raksasa. Mereka mengklaim ini merupakan spesies baru dinosaurus dari pegunungan Patagonia, Argentina, pada 80 juta tahun lalu.

RIO DE JANEIRO(SINDO) –Dinosaurus herbivora itu dinamakan Futalognkosaurus dukei dan memiliki panjang sekitar 105–112 kaki atau 34 meter mulai kepala hingga ekor.Panjang leher 17 meter, ekor 15 meter,dan berat 70 ton. Ini merupakan satu dari tiga dinosaurus terbesar yang pernah ditemukan di dunia.

’’Ini merupakan spesies baru dan kelompok baru. Diameter lehernya sangat lebar,kuat,dan luar biasa besar,” tutur ahli Paleontologi Argentina Juan Porfitri. Poin dari penemuan ini merupakan sisilah baru dari titanosaurus, yang secara istimewa berleher besar dengan tulang lehernya sepanjang 1 meter dan kerangka tulang belakangnya yang seberat 8 ton.

Sisa fosil dari ekosistem yang sama pada zaman akhir Cretaceous itu ditemukan satu wilayah dengan daun yang masih terawetkan secara baik dan ikan pada area 400 meter persegi pada Februari 2000. Deskripsi dari temuan-temuan itu dipublikasikan dalam isu terakhir sejarah the Brazilian Academy of Sciences. Nama Futalognkosaurus dukei diambil dari bahasa Mapuche yang berarti kepala kadal raksasa dan nama perusahaan energi Amerika Duke Energy Corp, yang berperan besar membiayai penggalian fosil.

Proses ekskavansi dilakukan di sekitar danau Barreales,90 Km (56 mil) utara Neuquen, Argentina. Sebesar 70% kondisi fosil yang ditemukan sangat baik atau jauh lebih besar daripada penemuan fosil dinosaurus raksasa di dunia yang hanya mencapai 10%.

’’Itu merupakan dinosaurus terbesar yang pernah ditemukan dan paling lengkap fosilnya untuk seekor dino raksasa. Kami telah mendapatkan fosil semua tulang belakang, leher, ekor, yang mungkin akan menjadi bekal bagi kita untuk mengevaluasi kembali dinosaurus yang lainnya. Kerangka yang ditemukan di Patagonia ini muncul merepresentasikan pada spesies yang tidak diketahui sebelumnya karena struktur lehernya yang unik,”tutur peneliti Museum Nasional Alexander Kellner di Rio De Janeiro.

Jet Wilson dari Universitas Michigan juga sepakat bahwa penemuan ini memang luar biasa.Tiap bagian kerangka memang berukuran besar. Hal itu menunjukkan bahwa batasan yang lebih tinggi tentang ukuran dinosaurus.Meskipun ada beberapa dinosaurus lainnya yang juga berukuran besar, Dukei ini memang yang terbesar.

Dua kerangka dinosaurus besar lainnya juga ditemukan di Patagonia, yakni yang masuk silsilah Argentinosaurus yang panjangnya sekitar 35 meter dan Puertasaurus Reuli yang panjangnya 35–40 meter. Dinosaurus merupakan bagian dari serial penemuan di wilayah Brasil ini setelah penemuan fosil pertama pada 2000.

Bagi para peneliti, dengan menemukan daun dan ikan pada wilayah di mana fosil sang dinosaurus ditemukan, tampak seperti dunia yang hilang. ’’Akumulasi fosil ikan dan daun di sekitar dinosaurus ditemukan, ini fantastik.Daun dan dinosaurus bersama itu jarang sekali ditemukan. Ini seperti sebuah dunia yang hilang,”tutur Wilson.

Dia merujuk pada hikayat klasik tentang dunia yang hilang (The Lost World) buah karya Arthur Conan Doyle,yang mengisahkan ekspedisi ilmiah di bagian terpencil di Amerika Selatan untuk mencari dinosaurus di sebuah wilayah yang terisolasi. Direktur Pusat Paleontologi Universitas Nasional Comahue Argentina Jorge Calvo menyatakan bahwa fosil dinosaurus dari Patagonia itu memang kenyataannya ditemukan pada area terbatas 0,5 meter (1,5 kaki) lapisan batu.

Dengan demikian, muncul kesimpulan semua binatang itu hidup pada periode yang sama,termasuk lebih dari 1.000 fosil binatang lainnya di wilayah tersebut. Selain ikan, ahli paleontologi juga menemukan fosil kerang-kerangan, setidaknya dua tipe fosil seperti buaya. Beberapa dinosaurus, termasuk tesaurus terbang dan hewan karnivora megaraptor dengan kuku sepanjang 40 cm (16 inci) serta 300 fosil gigi.

Sementara itu, fosil daun dari tanaman yang ditemukan menunjukkan keunggulan tanaman yang sedang berbunga pada waktu itu. Peneliti menjelaskan, setidaknya ditemukan 240 fosil tanaman telah ditemukan sejak situs itu ditemukan pada 2000. Beberapa daun memang merupakan bagian dari makanan titanosaurus dan spesimen lainnya yang ditemukan di sana.

Para peneliti menyatakan, inti dari penemuan ekosistem fosil ini adalah pada waktu itu iklim lembah Patagonia mulai menghangat dan memiliki hutan pada waktu periode akhir Cretaceous. Saat ini, area tersebut telah menjadi padang rumput yang gundul. Namun, para peneliti belum bisa mengetahui secara pasti penyebab dinosaurus itu punah. Bisa jadi, dagingnya disantap predator, kemudian rusak dan dihanyutkan oleh aliran sungai.

Lalu, seiring waktu, tulangnya terakumulasi bersama duri ikan dan daun hingga menjadi fosil. Sebuah fosil karnivora theropod Megaraptor ditemukan lengkap dengan lengan dan kuku berbentuk sabit. Sebelumnya, pecahan tulang telah diinterpretasikan sebagai kaki. Proyek penelitian gabungan antara Argentina dan Brasil ini juga dilakukan di Mato Grosso, Brasil.

Kellner menyatakan bahwa penemuan ini sangat penting untuk penelitian di masa depan.Wilayah padang gurun seperti Argentina memang merupakan tempat pengawetan paling bagus untuk fosil daripada tanah basah di Brasil. (Rtr/AFP/Times/abdul malik)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ragam/kadal-raksasa-dari-pegunungan-patagonia.html

h1

KASUS FLU BURUNG DI PROVINSI BALI- Kunjungan Wisman Tetap Normal

September 1, 2007
KASUS FLU BURUNG DI PROVINSI BALI- Kunjungan Wisman Tetap Normal
Kamis, 23/08/2007

Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik memastikan bahwa kasus positif flu burung kepada manusia di Pulau Bali tidak memengaruhi jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke provinsi tersebut.

JAKARTA(SINDO) –Bahkan, kedatangan wisman di Bali akhirakhir ini mencapai 6.000–7.000 orang per hari.Padahal,normalnya kunjungan wisman itu hanya mencapai 5.200 orang per hari.

’’Karena itu, kami mengharapkan partisipasi semua pihak, sedangkan informasi yang keluar harus di-manage. Jangan sampai orang asing takut datang ke Bali. Padahal, kita sendiri orang Indonesia merasa tidak ada apa-apa di sini,”tuturnya,seusai rapat koordinasi tingkat menteri di Kantor Menko Kesra, tadi malam.

Menurut Jero Wacik, kunjungan wisman ke Bali pernah mengalami kemerosotan tajam pada peristiwa bom Bali beberapa tahun silam. Angka kunjungan drop menjadi hanya 2.000 orang per hari.Peristiwa itu mendorong departemennya untuk menyampaikan informasi yang tertata baik sehingga menimbulkan kesan kondusif bagi para calon wisman.

Dia memberi contoh dengan mengundang media asing berkunjung ke Pulau Dewata. ’’Sebetulnya, kalau kita ke Bali saat ini,semuanya (kehidupan masyarakat) berjalan normal. Namun, kalau kita ’’tiup’’ berita ini sedemikian rupa, orang asing akan takut.Padahal, seharusnya biasabiasa saja,”paparnya.

Dia menjelaskan, pola pemusnahan unggas di Bali dilakukan sangat serius. Selain itu, saat ini sedang dipersiapkan tiga eventinternasional di Bali, yakni Pacific Asia Travel Association (PATA) Travel Mart pada September 2007,kemudian Desember akan ada kegiatan ASEAN Beach Games, dan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC).

Acara itu berpotensi mendatangkan wisman ke Bali dalam jumlah besar. ’’Kita serius menangani flu burung, jangan sampai Bali yang sudah begitu populer terkena imbas akibat penyakit ini. Tahun ini, (Bali) kembali dinobatkan sebagai the best island in the world dan kita harus kelola informasinya jangan sampai menjadi negatif,”ujarnya.

Tercatat, selama 10 tahun terakhir, angka pencapaian wisatawan asing mencapai 5,2 juta per tahun. Rekor ditemui pada 2004,saat itu wisman yang datang mencapai 5,3 juta orang. Untuk 2007, ditargetkan sebanyak 6 juta wisman,sedangkan 2008 dinaikkan targetnya menjadi 7 juta wisman.

Jero optimistis bahwa target 7 juta wisman bisa tercapai karena selama semester I/2007 terjadi peningkatan sebesar 12% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal yang sama diutarakan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Aburizal Bakrie. Dia menjamin penanganan flu burung di Bali dilakukan secara serius.

Buktinya, ujar dia, Bupati Jembrana sangat kooperatif dalam membantu menanggulangi penyakit mematikan ini. Bahkan, bupati telah membuat perda yang melarang lalu lintas unggas selama satu bulan setelah ditemukannya kasus flu burung positif kepada manusia di Jembrana.

Menurut politikus Partai Golkar ini,pemusnahan unggas di Bali juga dilakukan seketika saat ditemukan kasus flu burung positif kepada manusia. Warga juga diberikan obat tamiflu gratis untuk berjaga-jaga dan sosialisasi bagaimana menjaga diri dari virus flu burung.

Berdasarkan data terakhir Departemen Kesehatan (Depkes) hingga 22 Agustus 2007 kemarin, secara kumulatif, kasus FLU BURUNG di seluruh Indonesia mencapai 105 orang,sedangkan 84 orang di antaranya meninggal dunia. Angka kematiannya (case fatality rate= CFR) mencapai 80%.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Depkes, Lily S Sulistyowati menyatakan, kasus ke-105 flu burung positif kepada manusia, yakni AS (P, 28) asal Banjar Batu Gaing, Baraban, Kediri, Tabanan Bali yang meninggal 21 Agustus 2007 pukul 13.30 Wita di RSU Sanglah. AS dinyatakan positif flu burung berdasarkan hasil pemeriksaan Laboratorium Badan Litbangkes dan Laboratorium Eijkman,Jakarta. (abdul malik) 

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/nasional-sore/kasus-flu-burung-di-provinsi-bali-kunjungan-wisman-tetap-n-3.html