h1

Suspect Flu Burung Meninggal di Bali Bertambah

September 1, 2007
Sindo Edisi Sore Berita Utama Sore
Suspect Flu Burung Meninggal di Bali Bertambah Jadi Empat
Minggu, 26/08/2007

Seorang pasien suspect flu burung di Bali meninggal. NSA, 42, akhirnya meninggal di Ruang Nusa Indah rumah sakit (RS) Sanglah, Denpasar, Bali pada pukul 20.30 Wita,tadi malam (25/8).

DENPASAR (SINDO) –Ketua Tim Penanggulangan Penyakit Flu Burung RSUP Sanglah Putu Andrika kepada wartawan di RS Sanglah menyatakan bahwa NSP dirujuk ke RS Sanglah pada pukul 15.00 Wita, dua hari sebelumnya korban dirawat di RS Wangaya,Denpasar.

’’Pasien sudah dalam kondisi akut dan memburuk, kemudian kami mencoba lakukan pemeriksaan, terutama melalui rontgen ditemukan peradangan pada paru sebelah kanan.Kemudian,malam tadi sebelum meninggal, kondisinya memburuk, ditandai peradangan paru-paru yang semakin rusak,”papar Putu Andrika.

Dengan meninggalnya NSA, tercatat telah ada tiga orang suspect flu burung di Bali dan meninggal. Pada Selasa (21/8) lalu,Ni Wayan Nariyati mengalami hal yang sama. Sementara itu, kasus flu burung positif kepada manusia di Pulau Dewata tercatat per 22 Agustus sebanyak dua orang yang berakhir meninggal dunia.

Sementara itu, total jumlah kasus secara nasional flu burung positif kepada manusia sebanyak 105 kasus, sedangkan 84 orang di antaranya meninggal dunia dengan persentase angka kematiannya (case fatality rate/CFR) sebesar 80%. Artinya, dari 10 orang yang positif terkena flu burung, 8 orang di antaranya meninggal dunia dan hanya 2 orang yang selamat.

Lebih jauh, Andrika mengungkapkan, timnya telah berjuang keras menyelamatkan korban selama delapan jam. Namun, peradangan paru NSA semakin memburuk hingga akhirnya pasien mengembuskan napas terakhirnya.Andrika menuturkan, sebelum meninggal, kecepatan napas korban mencapai 40 kali per menit, akhirnya mengalami gagal napas. Sementara itu, kandungan leukosit dan trombosit darah di dalam tubuh pasien menurun drastis.

’’Kami sudah berusaha maksimal menangani korban, baik dengan bantuan alat pernapasan ataupun pemberian obat secara intens. Namun, kami tidak berhasil menolong pasien,”paparnya.

Andrika menjelaskan, berdasarkan informasi dari keluarga korban, sebelum menderita gejala sakit, korban mengalami demam 38 derajat Celsius disertai batuk dan sesak napas, dengan kategori pneumonia akut. Namun,keluarga belum bisa memastikan apakah korban pernah kontak langsung dengan unggas mati mendadak, sebelum sakit atau tidak.

Salah seorang anggota keluarga menyatakan bahwa NSP mengalami gejala sakit sejak empat hari lalu (22/6) yang berawal dari tensinya naik-turun. Saat itu, tidak ada kecurigaan terinfeksi flu burung karena di lingkungan permukiman sekitarnya tidak ditemukan unggas mati mendadak.

Selain itu, NSP tidak memelihara unggas dan hanya memelihara burung perkutut yang telah disemprot desinfektan bersamaan penyemprotan massal di pasar burung yang berdekatan dengan rumahnya. Selanjutnya, ujar Andrika, melalui Dinas Kesehatan Provinsi Bali,pihaknya langsung mengirimkan spesimen sampel NSA ke Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbankes) dan Lembaga Eijkmann Jakarta untuk diteliti lebih lanjut, memastikan positif atau negatif terinfeksi virus H5N1.

Sebenarnya, hasil tes cepat atau rapid test menyatakan NSA negatif dari flu burung. ’’Namun, hasil tes cepat belum bisa dijadikan patokan. Sebab, dua pasien positif yang meninggal sebelumnya secara rapid test negatif, kemu- dian dikirim ke Jakarta dinyatakan positif,” jelasnya.

Dini hari tadi, jenazah NSA langsung dimakamkan di TPU Badung, Jalan Imam Bonjol,Denpasar.Setelah dinyatakan meninggal, jenazah NSA langsung dikeluarkan dari ruang Nusa Indah, RS Sanglah, Denpasar, Bali, Sabtu tengah malam dan dimasukkan ke peti jenazah yang ditutup rapat dengan paku.

Kemudian, tim dokter meminta keluarga segera memakamkan korban.Pada pukul 23.00 Wita, pihak keluarga langsung membawa jenazah NSA ke rumah duka di Jalan Yudistira,Kec Denpasar Barat,kemudian dimakamkan di TPU Badung,Bali. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan I Nyoman Kandun menyatakan, Bali merupakan daerah wisata internasional.

Karena itu,pihaknya mengimbau pemerintah daerah untuk lebih intensif melakukan penanganan. Mengenai hasil laboratorium Balitbangkes dan Lembaga Eijkmann, dia menjamin enam jam setelah spesimen sampai di Jakarta, akan diketahui hasilnya positif atau negatif. ’’Kami belum mendapat laporan apakah spesimen NSA sudah sampai di Balitbangkes dan Lembaga Eijkmann atau belum,” tutur Kandun saat dihubungi SINDO pukul 09.30 WIB,tadi pagi.

Meski demikian, pihaknya menjamin penanganan secara serius kasus flu burung di Bali, tidak perlu di khawatirkan. Sesuai prosedur pelaksanaan penanganan flu burung, setiap ada pasien suspect langsung ditangani dan dirawat layaknya pasien flu burung hingga terbukti apakah memang benarbenar positif atau negatif flu burung.Ini untuk mempercepat penanganan terhadap korban walaupun tidak jarang pasien akhirnya meninggal.

Secara nasional, ujar dia,karena Bali menjadi pusat perhatian dunia, penanggulangan penyakit ini pun dilakukan tidak dengan main-main. ’’Kami mengharapkan peran pemerintah daerah untuk lebih intensif melakukan penanganan. Kalau masalah peralatan, kebijakan, training, maupun guideline telah kami sediakan.Namun,untuk meminta partisipasi masyarakat, tentu pemdalah yang berperan. Sebab, flu burung tidak akan bisa tertangani kalau tanpa partisipasi ma-syarakat,” paparnya. (abdul malik/miftahul chusna/ant)  

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama-sore/suspect-flu-burung-meninggal-di-bali-bertambah-jadi-3.html

Tinggalkan sebuah Komentar