h1

Yang ”Garang”pun Mulai Genit

Nopember 15, 2008

Sunday, 16 November 2008
DOMINASICenter for Strategic and International Studies (CSIS) sebagai lembaga think tank (lembaga tangki pemikir) di negeri ini masih belum tergantikan lembaga lain.

Meski banyak tudingan miring yang ditujukan kepada CSIS bahwa lembaga itu beroperasi layaknya operasi inteligen, hingga saat ini lembaga think tank yang berdiri sejak 1971 itu masih eksis berdiri. Secara global,CSIS diakui sebagai salah satu dari 30 lembaga think tankteratas di dunia pada 2007 menurut Foreign Policy Research Institute (FPRI).

Ini menunjukkan CSIS tidak hanya masih mendominasi percaturan di tingkat lembaga think tanklokal Indonesia,tetapi juga diperhitungkan di kancah dunia. Bahkan, mantan aktivis 1998, John Helmi Mempi, menyebut CSIS sebagai lembaga hingga kini belum ada tandingannya. Bukan hanya dalam hal ulasan dan kajian penelitian— yang mampu mempengaruhi kebijakan publik, melainkan juga sistem penyebaran ideologi yang dibangun CSIS konon menggunakan sistem direct selling layaknya multilevel marketing (MLM).

Jadi, satu orang kader CSIS berkewajiban merekrut beberapa kader lainnya. ”Hingga saat ini belum ada lembaga tangki pemikir yang bisa menandinginya.” katanya. Sebutlah beberapa nama lembaga tangki pemikir di negeri ini semacam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dengan membidani Center for Information and Development Studies (Cides) yang disebut-sebut sebagai lembaga yang menandingi kekuatan CSIS.

Berdasarkan sejarahnya, CSIS dulunya lahir karena untuk memerangi ideologi tertentu.Namun,dalam perkembangannya,ketika masa Orde Baru,lembaga ini berhasil mempengaruhi kebijakan publik. Salah seorang pendiri CSIS,Hari Tjan Silalah,yang menjadi direktur sejak awal lembaga ini didirikan,membantah tudingan miring tersebut.Menurut dia,CSIS tidak memainkan peranan penting selama belasan tahun pemerintahan Orde Baru.

Yang ada adalah kedekatan antarindividu, bukan antara lembaga CSIS dengan pemerintah. Kini,”kegarangan”CSIS sebagai lembaga think tankdianggap meredup.Bahkan,lembaga yang biasanya fokus pada kajian-kajian serius terkait kebijakan pulik yang strategis kini mulai ”genit”dengan merambah dunia survei kepopuleran partai politik. Hal ini dilakukan CSIS Mei lalu dengan mengeluarkan hasil survei.

Lantas,muncul pertanyaan, ”kegenitan” CSIS itu disebabkan lembaga ini tengah berusaha menambah pundi-pundi pemasukannya atau justru kondisi keuangannya sedang terancam? Peneliti Senior CSIS Pande Radja Silalahi membantah hal tersebut. Dia menegaskan,kegiatan survei CSIS tidak bertujuan mencari dana. Kegiatan tersebut, kata Pande, sudah lama dilakukan CSIS.

Hanya saja,menurutnya,metodologi yang digunakan saat ini berbeda dengan sebelumnya.Biasanya CSIS melakukan survei kepopuleran melalui kajian ilmiah, seminar, dan lainnya, tetapi kini survei langsung ke lapangan. ”Tidak. Survei yang kami lakukan, hasilnya harus bisa dipertanggungjawabkan.

Bukan untuk mencari dana. Sebab, jika hanya berorientasi ke sana, bisa memengaruhi hasil survei tersebut,”ungkap Pande. Namun,lain lagi pandangan John.Saat ini dia menduga CSIS terancam masalah pendanaan. Sebab, kata dia, selama ini lembaga donor yang menyuntikkan dana keba-nyakan berasal dari AS dan Eropa.

Sementara negara-negara donor itu sedang mengalami krisis keuangan cukup parah akibat krisis finansial global.Dengan begitu,amat wajar donor pun mulai mengurangi dana bantuannya untuk lembagalembaga di negara berkembang seperti di Indonesia. (abdul malik/islahuddin/faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/187192/

h1

how difficult to be good writer….

April 14, 2008

how difficult to be good writer….

Seberapa sulitnyakah menjadi seorang penulis yang baik? Ini bukan hanya berbicara masalah moral. Namun juga masalah teknik penulisan dan kecemerlangan ide. Konon banyak orang bisa mengalami kesulitan pada saat mereka menulis. Bahkan seorang penulis senior sekalipun.

Aku sudah mulai belajar menulis secara serius semenjak aku duduk dibangku kuliah lebih dari delapan tahun silam. saat awal belajar menulis, bisa kamu bayangkan seperti apa tulisanku. Kacau! tidak hanya pengayaan ide yang minim, atau teknik penulisan yang semrawut. bahkan untuk mencapai tulisan “bunyi” sepertinya saat itu belum mampu aku lakukan. meskipun sebenarnya kita semua sudah belajar mengarang semenjak bangku SD.

Kini delapan tahun sudah berlalu, aku bekerja pada sebuah media Harian di Jakarta. Kamu tahu? meskipun setiap hari aku harus membuat minimal 4 artikel, namun kenyataannya kemampuan menulisku belum juga kunjung membaik. masih kacau! itulah kata redakturku. mulai pemilihan ide pokok (angle), logika kalimat yang tidak runut, pemilihan diksi, bahkan hingga tata bahasa dan kosakata yang benar. ah sulit sekali menjadi seorang penulis yang baik.. Wah!!!.. terkadang aku stres juga, ini otak kok dedel banget sih…

sepertinya masih banyak yang harus aku pelajari. sebab meskipun terkadang aku bisa menentukan ide pokok dengan jitu, namun tulisanku (kata redakturku) masih kurang runut. Fokus, sulit sekali mewujudkan kata ini. selain itu tata bahasa dan pemilihan diksi, wow! rumit banget. apalagi kalau sudah detik-detik menjelang deadline, … tentu rasanya tidak sempat untuk berfikir mana diksi atau tata bahasa yang benar. Yang penting, ide tulisan jadi dan bunyi!

namun setelah aku pikir-pikir, ternyata memang benar apa kata redakturku. Kita menulis itu untuk dibaca orang bukan untuk dikonsumsi oleh diri kita sendiri. jadi apapun kondisinya, detik-detik menjelang deadline kek, atau apapun, membiasakan diri menjadi seorang penulis yang baik adalah keharusan. Sehingga sekarang aku sedang benar-benar bekerja keras untuk belajar tentang tata bahasa dan pemilihan diksi yang baik. Ternyata ini lebih sulit dari yang aku kira. Seperti penulisan kata depan, keterangan, jabatan sumber atau lainnya. Contoh kesalahan paling sering aku lakukan, adalah aku yang sudah sangat terbiasa menulis kata “semenjak” ketimbang “sejak”. Jadi ini tangan kalau lagi menulis tentang kurun waktu tertentu, sukanya menulis kata “semenjak….”. Padahal sudah berapa hari ini aku selalu diingatkan oleh redakturku untuk tidak lagi menggunakan kata ini.

Belum lagi, penempatan mata uang dan lain-lain. Inilah akibat selama ini aku menganggap bahwa tata bahasa itu tidaklah terlalu penting. Selama ini aku menganggap, bahwa ketajaman ide, kemampuan menggali data, wawancara, dan menulis menjadi sebuah artikel bunyi itu yang terpenting dan sudah cukup. Sehingga aku selalu mengacuhkan untuk tidak belajar tata bahasa, karena aku merasa di kantorku sudah ada editor bahasa. buat apa aku repot-repot? kalau aku kerjain semua, lantas mereka akan ngerjain apa? ha2…. inilah kesombongan dan pikiran burukku. Namun saat ini aku mulai menyadari tentang kesalahanku ini.

walah, ternyata menulis dengan tata bahasa dan kosakata yang benar sama sulitnya dengan menuangkan ide dalam bentuk sebuah tulisan. Apalagi antara otak, tangan, dan komputerku yang lemot sekali uploadnya sering terjadi “tidak nyambung”. saking cepatnya terkadang sesuatu aku tulis kebalikannya. misalnya, kata yang seharusnya aku tulis dengan kata “tanpa”, karena tangan dan komputerku yang lambat, kata “tanpa” akhirnya terlewatkan. Dengan demikian jelas, bahwa itu sangat merubah arti dan makna dalam tulisanku. artinya kesalahannya cukup fatal, ketimbang lupa memberi titik atau koma pada penulisan nominal mata uang. sebab untuk yang satu inipun aku sering lupa.

wah sepertinya kini aku harus mulai belajar lagi. Jadi jika selama ini aku sudah belajar bagaimana menulis banyak, cepat, kini juga harus belajar bagaimana menulis dengan baik dan benar. mudah-mudahan aku segera menguasainya…. selamat belajar menjadi penulis..

salam,