Sunday, 16 November 2008
DOMINASICenter for Strategic and International Studies (CSIS) sebagai lembaga think tank (lembaga tangki pemikir) di negeri ini masih belum tergantikan lembaga lain.
Meski banyak tudingan miring yang ditujukan kepada CSIS bahwa lembaga itu beroperasi layaknya operasi inteligen, hingga saat ini lembaga think tank yang berdiri sejak 1971 itu masih eksis berdiri. Secara global,CSIS diakui sebagai salah satu dari 30 lembaga think tankteratas di dunia pada 2007 menurut Foreign Policy Research Institute (FPRI).
Ini menunjukkan CSIS tidak hanya masih mendominasi percaturan di tingkat lembaga think tanklokal Indonesia,tetapi juga diperhitungkan di kancah dunia. Bahkan, mantan aktivis 1998, John Helmi Mempi, menyebut CSIS sebagai lembaga hingga kini belum ada tandingannya. Bukan hanya dalam hal ulasan dan kajian penelitian— yang mampu mempengaruhi kebijakan publik, melainkan juga sistem penyebaran ideologi yang dibangun CSIS konon menggunakan sistem direct selling layaknya multilevel marketing (MLM).
Jadi, satu orang kader CSIS berkewajiban merekrut beberapa kader lainnya. ”Hingga saat ini belum ada lembaga tangki pemikir yang bisa menandinginya.” katanya. Sebutlah beberapa nama lembaga tangki pemikir di negeri ini semacam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dengan membidani Center for Information and Development Studies (Cides) yang disebut-sebut sebagai lembaga yang menandingi kekuatan CSIS.
Berdasarkan sejarahnya, CSIS dulunya lahir karena untuk memerangi ideologi tertentu.Namun,dalam perkembangannya,ketika masa Orde Baru,lembaga ini berhasil mempengaruhi kebijakan publik. Salah seorang pendiri CSIS,Hari Tjan Silalah,yang menjadi direktur sejak awal lembaga ini didirikan,membantah tudingan miring tersebut.Menurut dia,CSIS tidak memainkan peranan penting selama belasan tahun pemerintahan Orde Baru.
Yang ada adalah kedekatan antarindividu, bukan antara lembaga CSIS dengan pemerintah. Kini,”kegarangan”CSIS sebagai lembaga think tankdianggap meredup.Bahkan,lembaga yang biasanya fokus pada kajian-kajian serius terkait kebijakan pulik yang strategis kini mulai ”genit”dengan merambah dunia survei kepopuleran partai politik. Hal ini dilakukan CSIS Mei lalu dengan mengeluarkan hasil survei.
Lantas,muncul pertanyaan, ”kegenitan” CSIS itu disebabkan lembaga ini tengah berusaha menambah pundi-pundi pemasukannya atau justru kondisi keuangannya sedang terancam? Peneliti Senior CSIS Pande Radja Silalahi membantah hal tersebut. Dia menegaskan,kegiatan survei CSIS tidak bertujuan mencari dana. Kegiatan tersebut, kata Pande, sudah lama dilakukan CSIS.
Hanya saja,menurutnya,metodologi yang digunakan saat ini berbeda dengan sebelumnya.Biasanya CSIS melakukan survei kepopuleran melalui kajian ilmiah, seminar, dan lainnya, tetapi kini survei langsung ke lapangan. ”Tidak. Survei yang kami lakukan, hasilnya harus bisa dipertanggungjawabkan.
Bukan untuk mencari dana. Sebab, jika hanya berorientasi ke sana, bisa memengaruhi hasil survei tersebut,”ungkap Pande. Namun,lain lagi pandangan John.Saat ini dia menduga CSIS terancam masalah pendanaan. Sebab, kata dia, selama ini lembaga donor yang menyuntikkan dana keba-nyakan berasal dari AS dan Eropa.
Sementara negara-negara donor itu sedang mengalami krisis keuangan cukup parah akibat krisis finansial global.Dengan begitu,amat wajar donor pun mulai mengurangi dana bantuannya untuk lembagalembaga di negara berkembang seperti di Indonesia. (abdul malik/islahuddin/faizin aslam)
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/187192/

